Berawal dari kepo di twitter dan berakhir dengan tarikan napas panjang.
Pagi ini, seperti biasanya, ketika saya lagi buka-buka timeline orang yang saya gak kenal saya dapat kabar gak enak. Jadi orang ini ngetwit bahwa dia gak diundang ke acara buka puasa SMA hanya karena dia gay. Ya karena dia gay. That's it.
Jujur saya juga baru peduli-peduli amat dengan isu LGBT akhir-akhir ini aja. Waktu saya masih kuliah dan baru sok-sokan baca buku-buku kiri, saya lebih tertarik dengan isu sosial yang kaitannya sama lingkungan dan ekonomi. Lebih keliatan aja masalahnya dan relatif banyak teman yang sepemikiran.
Sampai akhirnya saya mulai baca-baca buku feminisme. Awalnya saya pun melihat bahwa perjuangan feminisme itu mengada-ada dan belum kelihatan aja hasilnya. Ternyata saya mulai menyadari bahwa yang saya baca adalah bagaimana melawan sejarah. Sejarah ribuan tahun yang merugikan banyak orang dan dianggap sebagai hal yang wajar.
Bicara tentang LGBT, dulu saya juga berpikir bahwa ini adalah isu negara-negara yang sudah mapan dan personal. Kurang heroik gicuu. Ternyata apa yang personal justru politis. Kayak cerita di awal tadi.
Saya yakin kalo apa yang disebut di bible dan quran tentang sodom dan gomorah itu adalah tafsir hoax yang dibikin ahli agama. Goblok banget lah Tuhan kalau dia sampai membenci homoseksual. Buruk muka cermin dibelah. Sampai saya sampai pada kesimpulan bahwa memang tidak ada itu azab bagi sodom dan gomorah hanya karena mereka suka sesama jenis.
Kemarin saya ngeliat jahitan yang tulisannya "jaman berkembang dan gadget makin canggih dan beragam kok ya gak bisa nerima mereka yang punya orientasi seksual yang beragam."
Saya sadar sesadar-sadarnya. Ketika saya menulis ini orang akan mencurigai saya. Gak peduli lah. Saya yakin selama kita masih gak mau ngebuka mata, kita bakalan jadi bagian dari sistem yang menindas.
Menurut lu aja, emang buka puasa mau ngapain sih sampe nolak orang yang orientasinya berbeda?
A Pragmatic Public Sphere
2 days ago







0 comments:
Post a Comment