
Ketika dunia menjadi tempat yang tidak lebih baik, kematian mungkin adalah jawabannya. Bisa jadi di kehidupan setelah kematian segalanya akan menjadi lebih baik dan tidak ada lagi konflik kemanusiaan. Tapi apa iya? Apa jadinya bila memang tidak ada kehidupan setelah kematian dan kita hanya akan menjadi debu dan membusuk menyatu dengan tanah?
The bubble (2006), film besutan Eytan Fox menurut saya bisa menjadi referensi siapapun yang ingin melihat konflik Israel – Palestina dengan sudut pandang yang lebih objektif. Berkisah tentang tiga orang Yahudi yang bersahabat dan tinggal di satu apartemen. Satu wanita straight yakni Lulu dan dua pria gay, Noam dan Yali. Kehidupan mereka berubah setelah Ashraff seorang pria Palestina tinggal di apartemen mereka dan menjalin kasih dengan Noam.
Menonton film ini, kita dibawa untuk menyelami kehidupan anak muda di Tel Aviv mulai dari percintaan, seks hingga politik. Siapa terpikir bahwa mereka tidak menginginkan perang dan aktif menyuarakan perdamaian? Ini membuktikan bahwa di belahan dunia manapun akan ada sekelompok anak muda yang peduli dan muak dengan status quo.
Dulu saya berpikir bahwa konflik Palestina – Israel adalah memang konflik antara Islam dan Yahudi. Ternyata tidak. Konflik ini memang dipelihara oleh kedua belah pihak dan mereka mengklaim melakukannya untuk kepentingan politik. Ya, kaya disini lah Tuhan pasti dibawa-bawa supaya jualannya laku.
Saya juga terpikir, di ajaran Islam kaum Yahudi digambarkan dengan begitu buruknya hingga mayoritas penganut Islam menganggap mereka harus dimusnahkan. Ternyata memang pekerjaan rumah kita banyak untuk menghapus semua stigma terhadap bangsa Yahudi. Mereka juga manusia dan ingin hidup damai. Stigma akan terus ada karena memang kita terus-terusan mengakses media yang anti Yahudi dan percaya ajaran agama mentah-mentah.
Cerita mencapai klimaks ketika Ipar dari Ashraff menyerukan untuk mengebom Tel Aviv. Dari bom tersebut, Yali menderita luka ringan. Militer Israel pun melakukan operasi militer ke tempat tinggal Ashraff yang diyakini sebagai asal bom dan dalam operasi ini, Rana, kakak perempuan Ashraff yang baru menikah terbunuh.
Suami Rana akhirnya ingin membalas dendam dengan melakukan bom bunuh diri di Tel Aviv. Di tengah persiapan, Ashraff menawarkan diri untuk melakukan bom bunuh diri. Di akhir cerita, Ashraff melakukan bom dan Noam sang kekasih pun ikut terbunuh menuju akhirat yang bisa jadi menjadi tempat yang lebih baik. Jika memang akhirat itu ada dan Yahudi akan masuk surga bareng umat Islam.
“Hubi, my love. Let’s fly away. Maybe beyond the smoke and the fighting, there’s a better place. Maybe there really is a paradise where we can just love each other. I don’t know. I wonder if we really had a chance? If, even for a moment, we had a chance... Lulu and Yali will probably give the papers of a photo of the two of us. Maybe the one from the rave, where we look all high and happy.
Maybe people will see how beautiful we look and understand how stupid these war are. No, they probably never will.”







0 comments:
Post a Comment