Saya kira setelah bertahun-tahun mendapat pelajaran agama islam di sekolah yang melarang umat islam untuk mengucapkan selamat natal, orang akan belajar dan menyimpulkan bahwa apa yang mereka terima hanyalah kepicikan guru agama yang khawatir sesama umatnya menjadi murtad. Ternyata saya salah. Saya ingat, ketika masih sekolah dasar dan menjelang natal, saya membuat ucapan selamat natal di selembar kartu. Kartunya bukan untuk siapa-siapa, buat saya aja, karena menurut saya perayaan natal sangatlah menyenangkan dan relatif tidak ada penghakiman atau ceramah dosa dan pahala. Ternyata apa yang saya lakukan dianggap sebagai masalah. Teman saya beranggapan bahwa mengucapkan selamat natal adalah bentuk penerimaan terhadap keimanan umat kristen dan otomatis membuat saya keluar dari agama Islam. Waktu itu saya Cuma bisa diam.
Saya mengenyam pendidikan di sekolah negeri dari SD hingga SMA. Untungnya. Tanpa bermaksud pamer, saya bersekolah di sekolah yang bisa dibilang unggulan. Dan tipikal sekolah negeri unggulan di Jakarta adalah tren yang berkembang sekarang, sekolah menjadi cenderung religius dan mayoritas gurunya cenderung konservatif dalam beragama. Sisanya bisa ditebak sendiri. Pemaksaan dalam berpakaian dan cenderung curiga dalam melihat umat agama lain, dalam hal ini kristen.
Saya kira, orang-orang yang mengenyam pendidikan di kampus dan memiliki relasi yang luas adalah orang yang berpikiran terbuka. Mereka punya akses atas informasi yang luas. Mereka sering berdiskusi atas segala macam permasalahan dengan argumen ilmiah dan logis yang seharusnya membentuk mereka jadi pribadi yang akan merasionalisasi ajaran agama yang mereka anut. Ini asumsi saya loh. Dan kalau mereka memang mendapat pendidikan yang benar dan humanis, seharusnya mereka bisa berempati terhadap orang lain. Dalam hal ini keyakinan. Lagi-lagi ini asumsi saya loh.
Kalau asumsi saya benar, seharusnya orang-orang yang mengenyam pendidikan yang tinggi bisa menjadi individu yang berpikiran terbuka, salah ya? Jadi gini, menjelang natal dan perayaan natal kemarin timeline saya di twitter tiba-tiba heboh sama twit-twit yang membahas boleh tidaknya umat Islam mengucapkan hari raya natal. Bahkan ada yang sempet buat twit berseri hingga puluhan membahas dari berbagai macam pendapat ulama.
Menurut saya. Menurut saya loh. Ucapan selamat natal adalah pilihan individu. Bagus banget kalo ngucapinnya dengan ikhlas. Lebih bagus lagi kalau ada yang mengundang untuk ikut perayaannya dan turut meramaikan sang pemilik hajatan. Tapi jadi gak bagus kalau ada yang gak setuju dengan sesama teman yang mengucapkan selamat natal dan turut merayakan natal disertai dengan dalil-dalil yang menyuruh orang yang mengucapkan untuk keluar dari agama Islam.
Oh ya, mereka jelas ilmiah karena membahas dari berbagai macam literatur. Sebagai umat Islam kita tidak boleh sembarangan bertindak tanpa dalil dan pemikiran yang jelas dan sahih. Tidak ada tempat bagi hawa nafsu dalam menafsirkan agama, ini bisa merusak akidah.
Antara Buruh, Kemacetan, dan Kita
2 days ago







