Monday, December 26, 2011

Ucapan natal dan twit-twit yang menyebalkan

Saya kira setelah bertahun-tahun mendapat pelajaran agama islam di sekolah yang melarang umat islam untuk mengucapkan selamat natal, orang akan belajar dan menyimpulkan bahwa apa yang mereka terima hanyalah kepicikan guru agama yang khawatir sesama umatnya menjadi murtad. Ternyata saya salah. Saya ingat, ketika masih sekolah dasar dan menjelang natal, saya membuat ucapan selamat natal di selembar kartu. Kartunya bukan untuk siapa-siapa, buat saya aja, karena menurut saya perayaan natal sangatlah menyenangkan dan relatif tidak ada penghakiman atau ceramah dosa dan pahala. Ternyata apa yang saya lakukan dianggap sebagai masalah. Teman saya beranggapan bahwa mengucapkan selamat natal adalah bentuk penerimaan terhadap keimanan umat kristen dan otomatis membuat saya keluar dari agama Islam. Waktu itu saya Cuma bisa diam.

Saya mengenyam pendidikan di sekolah negeri dari SD hingga SMA. Untungnya. Tanpa bermaksud pamer, saya bersekolah di sekolah yang bisa dibilang unggulan. Dan tipikal sekolah negeri unggulan di Jakarta adalah tren yang berkembang sekarang, sekolah menjadi cenderung religius dan mayoritas gurunya cenderung konservatif dalam beragama. Sisanya bisa ditebak sendiri. Pemaksaan dalam berpakaian dan cenderung curiga dalam melihat umat agama lain, dalam hal ini kristen.

Saya kira, orang-orang yang mengenyam pendidikan di kampus dan memiliki relasi yang luas adalah orang yang berpikiran terbuka. Mereka punya akses atas informasi yang luas. Mereka sering berdiskusi atas segala macam permasalahan dengan argumen ilmiah dan logis yang seharusnya membentuk mereka jadi pribadi yang akan merasionalisasi ajaran agama yang mereka anut. Ini asumsi saya loh. Dan kalau mereka memang mendapat pendidikan yang benar dan humanis, seharusnya mereka bisa berempati terhadap orang lain. Dalam hal ini keyakinan. Lagi-lagi ini asumsi saya loh.

Kalau asumsi saya benar, seharusnya orang-orang yang mengenyam pendidikan yang tinggi bisa menjadi individu yang berpikiran terbuka, salah ya? Jadi gini, menjelang natal dan perayaan natal kemarin timeline saya di twitter tiba-tiba heboh sama twit-twit yang membahas boleh tidaknya umat Islam mengucapkan hari raya natal. Bahkan ada yang sempet buat twit berseri hingga puluhan membahas dari berbagai macam pendapat ulama.

Menurut saya. Menurut saya loh. Ucapan selamat natal adalah pilihan individu. Bagus banget kalo ngucapinnya dengan ikhlas. Lebih bagus lagi kalau ada yang mengundang untuk ikut perayaannya dan turut meramaikan sang pemilik hajatan. Tapi jadi gak bagus kalau ada yang gak setuju dengan sesama teman yang mengucapkan selamat natal dan turut merayakan natal disertai dengan dalil-dalil yang menyuruh orang yang mengucapkan untuk keluar dari agama Islam.

Oh ya, mereka jelas ilmiah karena membahas dari berbagai macam literatur. Sebagai umat Islam kita tidak boleh sembarangan bertindak tanpa dalil dan pemikiran yang jelas dan sahih. Tidak ada tempat bagi hawa nafsu dalam menafsirkan agama, ini bisa merusak akidah.

Tuesday, December 6, 2011

On talking about relationship

When it comes to sustainability within a relationship, which one do you prefer? Having just one partner for a life time or lots of partner during your life time? This year has been a tremendous one. I have met lots of people and see how they practice relationship. Yes, encounter in ideas do change people’s mind. So do I.

I have one fave TV show: Offspring. It was at 2010 when I was frustated with my IELTS test and tried to understand Australian accent. I found this TV show ridicolous at first but end up loving it up to the second season on 2011. Ha! One of the interesting scene is when Darcy Proudman, the father of this big family, an old man, find that his ex-wife have sex with his rival. He finally start to move on and find another women. The thing is, they are 50-60 something. I just can’t imagine spending my old day in finding another love.

Another one is when Nina Proudman, the eldest sister, should choose whether to be with his ex-crush or with his current partner. Having multiple partner? I used to resist this idea, but the thing is, it’s good to know all the possibilities and how we can choose upon that. But, do we really have a choice to whom we fall in love? Some of my friends cheat behind their official partner and the reason, sometimes, acceptable.

Is there any true love btw?

The first two weeks

How does it like to live normally? Well, I’ve moved out from Jakarta to KL. The thing that I really want for a long time. To live alone and have everything by my own. The decision to move were really fast and I’m still questioning whether this is just a long dream or not.

Well, so far KL is nice! Everybody seems to live normally and does not face a huge pressure as if in Jakarta. Most of people leave the office around 5 pm and I can see lots of people doing sport and have fun in public park at around 6 pm. Crazy? Yes, it is. I came to a conclusion that when we live in Jakarta, we have been made to forget what ideal life should be.

The public transportation are so humanist and since there is no ojek, I’ve forced to walk from home to the nearest LRT. And yes, I am happy to let myself moving since I have not fulfill my resolution to do sport regularly during 2011.

Polution? Not really. But the thing is, KL is lack of gorgeous people. Ha!

Sunday, October 30, 2011

two months left to 2012

After all of those path that I've passed. I think this is the time to festive what I've fight for. The question is, what I've fight for?

You know, after all of these achievements and traveling to see the world, do I still need to pursue what I've dreamed of?

I'm jaded and I feel like a zombie.

Thursday, September 15, 2011

Holla world!

Hey, it's been a long time ago for me to update this blog. I'll update you about my trip di Busan, South Korea a few weeks ago. See you! :)

P.S. This is me in Shanghai!