Beberapa minggu ini saya lagi suka merhatiin update lewat twitter akun @TanpaJIL. Awalnya iseng karena suka dapet ritwit orang-orang yang anti dengan JIL (Jaringan Islam Liberal), ternyata pas iseng follow, gerakan ini menurut saya cukup luar biasa. Bermodal komunikasi di twitter bisa sampai bikin gerakan di berbagai kota di Indonesia.
Dari penelusuran saya, gerakan ini muncul sebagai resistensi pemikiran aktivis JIL seperti @ulil dan @gunturromli yang menghadirkan perspektif keislaman yang berbeda dibanding dengan yang mainstream. Rupanya makin banyak yang jengah dengan pemikiran JIL di twitter, dan akhirnya mereka buat akun sendiri. Di twitter followernya sekitar 13ribu, mereka juga punya facebook page dengan 31ribu lebih fans , ditambah youtube dan website!
Gerakan ini pun sudah muncul di berbagai kota di Indonesia seperti Jabodetabek, Samarinda, Pekanbaru, Pontianak, Malang, Jogja, Kendari, Solo, Semarang, Pandeglang, Makasar, Bandung, hingga Palembang! Kegiatannya beragam mulai dari diskusi, aksi sebar flyer di jalan, bahkan ada yang niat naik gunung dan pas sampai di puncak foto dengan logo gerakan ini!
Gerakan ini jelas sangat menarik. Secara personal saya justru heran, masa Cuma menghadapi organisasi kecil seperti JIL saja perlu seluruh indonesia yang ngelawan! JIL adalah organisasi kecil dan juga tidak memiliki staf yang banyak. Salah satu teman saya cerita kalau organisasi donor melihat investasi dalam bentuk pemikiran seperti mendanai organisasi seperti JIL tidaklah terlalu banyak terlihat hasilnya. Hal ini karena resistensi yang besar dari masyarakat dimana organisasi ini berkembang dan juga outputnya yang dianggap kurang strategis.
Jadi ya organisasi donor udah gak terlalu tertarik dengan organisasi seperti ini. Justru ketika organisasi ini sudah tidak menarik, aksi dalam bentuk resistensi ini justru mengangkat pamor organisasi ini kembali dannn pemikiran organisasi yang sebelumnya hanya beredar di segelintir orang mulai dikonsumsi masyarakat luas. Alih-alih melakukan counter pemikiran, gerakan ini justru malah berpotensi menyebarkan pemikiran JIL secara luas. Kalau udah kaya gini, saya ketawa aja deh hehe JIL dapet promosi gratis lagi!
Membangun model gerakan?
Menurut saya, terlepas dari isu yang dibawa, pengorganisasian aksi hingga di beberapa kota ini sangat menarik. Tanpa adanya dukungan dana dan tokoh yang dianggap panutan, gerakan ini terus bergulir. Padahal jika yang membuat program seperti ini adalah pemerintah, lembaga donor, hingga LSM, dana yang dikucurkan untuk membuat program dengan target luas dan di berbagai kota di Indonesia ini dananya bisa mencapai ratusan bahkan hingga milyaran rupiah.
Sampai di titik ini, mungkin gerakan ini bisa jadi refleksi bagi berbagai organisasi sosial dan juga aktivis yang berusaha membangun gerakan yang kuat di akar rumput. Toh tanpa donor mereka bisa terus jalan. Donor juga bisa jadi heran berbagai organisasi yang mereka sudah dukung banyak yang mandek dan gak berkembang, sedangkan yang tanpa donor kaya gini bisa terus bergulir.
Jadi sebenernya kita perlu konsep pembangunan gak sih? :p ada yang bisa bantu jawab keheranan saya?